Rabu, 20 Juli 2011

Teruntuk R

Dear R....
entah sejak kapan sebenernya aq jatuh cinta ke kamu... aq sendiri gak tau kapan dan bagaimana. Apakah kamu orang yang tepat untuk aq "move on" dari sebuah kenangan masa lalu yang menyakitkan.... atau lagi-lagi Tuhan hanya menjadikan mu sebagai pembelajaran ke langkah selanjutnya.
Kamu jauh dari tipe idealku... kamu juga jauh dari laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi sumpah demi apapun... setelah Irfan cuma kamu yang mampu membuat aq berdebar-debar seperti ini. Dalam logikaku...dalam akal sehatku kamu tidak lah mungkin jadi laki-laki yang akan membuat aq terlena dan jatuh cinta.... Kamu jauh dari kata romantis... kamu jauh dari kata pendengar yang baik....bahkan kamu jauh dari tempat orang akan bermanja.... Dan banyak alasan-alasan penyangkalan lainnya. Aq mungkin akan menemukan ribuan alasan untuk tidak mencintai mu..... aq bahkan bisa menyangkal beribu macam sangkalan kenapa tidak seharusnya aq jatuh cinta dengan dirimu.... Tapi sayangnya... antara hati, logika, akal sehat dan perasaan ku kali ini tidak seimbang... di dekatmu aq bahkan berdebar-debar... di dekatmu aku bahkan tidak berani memandangmu jika kau memandangku... hal yang bahkan terlintas pun tidak. :((. Banyak alasan untuk tidak jatuh cinta padamu... namun aq memilih untuk jatuh cinta padamu setidaknya hatiku merasakan demikian....
Kali ini pepatah orang tua salah... kalau memang harus jatuh cinta... tidak perlu kebersamaan... tidak perlu kebersamaan... karena toh cinta yang memilih bukan kita yang memilih.....

Meski aq bingung bagaimana mengatasinya... karena baru kali ini aq memiliki perasaan seperti ini.... aq benar-benar berterima kasih ke kamu... meski akhirnya mungkin akan sedikit sedih... tapi setidaknya setelah ini mungkin aq akan lebih menghargai ketika ada orang yang menyatakan cintanya.... betapa untuk mengatakan mencintai seseorang kita butuh banyak keberanian....

Jujur saja degh R... aq pada awalnya berpikir untuk menyerah dan menahan apa yang aq rasa.... tapi apa yang aq bisa... hatiku gak mau dengar... hatiku bahkan menolak menahan malah menjadi bertambah suka..... Huft.... susah banget... but i do love u

Kamis, 07 Juli 2011

Alasan kita bangga jadi Interisti


Tragedi Superga: Tewasnya Bakat Italia

Info Tragedi Superga

Jenis: Kecelakaan pesawat
Lokasi: Superga, Turin (Italia)
Tanggal: 4 Mei 1949
Korban: 31 orang tewas

Info pesawat
Jenis: FIAT G-212 CP
Perusahaan: Avio Linee Italiane
Daya tampung: 32 orang
Rute: Barcelona–Turin

Kronologi
Lisabon – Berangkat pukul 15.45. (4 Mei 1949)

Bukit Superga – Pulul 17.04. Hujan deras. Penglihatan pilot pesawat terganggu. Pilot coba melakukan pendaratan darurat. Sayang, sayap kiri pesawat menabrak bukit. Pesawat pun meledak.

Para Korban
Turin – Ribuan masyarakat Italia mengadakan upacara penghormatan untuk para korban. Berikut adalah para korban.

Pemain Torino
V Bacigalupo, G Gabetto, V Mazzola, To Ballarin, R Grava, R Menti, D Ballarin, C Grezar, P Operto, Bongiorni, Loik, F Ossola, And Castigliano, V Maroso, M Rigamonti, R Fadini, D Martelli, dan J Schubert.

Manajemen Torino
Civelleri, To Agnisetta, And Egrierbstein, L Lievesley, dan Or Cortina.

Wartawan
R Casalbore, L Cavallero, dan R Tosatti.

Kru pesawat
C Bianciardi, To Pangrazzi, C D' Inca, To Bonaiuti, Colonn, dan Meron
etaka itu berawal dari undangan. Terbetik kabar, Kapten Benfica dan Timnas Portugal, Francisco Jose Ferreira, berniat gantung sepatu. Ferreira lalu mengundang sahabat dan pemain yang paling dihormatinya, Valentino Mazzola, untuk melakukan pertandingan persahabatan di Portugal.

“Aku ingin Torino menghadiri pertandingan terakhirku sebelum aku gantung sepatu. Kalian merupakan klub terkuat di Eropa. Aku yakin, dengan bertanding melawan kalian masyarakat akan berduyun-duyun datang ke stadion,” pinta Ferreira kepada Mazzola. Sang Kapten Torino pun menjawab, “Aku akan minta izin kepada Novo (Presiden Torino). Jika dia setuju maka aku akan datang ke pesta perpisahanmu,” jawab Mazzola.Manajemen Torino tak keberatan. Asal, Mazzola dkk tetap harus tampil maksimal saat berlaga melawan Inter Milan yang digelar satu hari sebelumnya. Mazzola setuju. Pertandingan berakhir imbang 0-0, tetapi itu sudah cukup bagi Torino untuk memastikan diri keluar sebagai juara.

Pada Minggu, 3 Mei 1949, Mazzola dkk terbang ke Lisabon, Portugal, untuk berduel dengan Benfica. Ribuan orang menonton partai terakhir Ferreira tersebut. Pertandingan berjalan seru. Gol demi gol dilesakkan masing-masing tim. Benfica lebih beruntung. Jawara Liga Portugal itu menang tipis, 4-3.
Keesokan harinya, Tim Torino berangkat pulang ke Italia. Menumpang pesawat jurusan Barcelona-Turin yang transit di Benfica pada pukul 15.15, Mazzola dkk pulang dengan perasaan riang. Mereka benar-benar tidak tahu bahwa malaikat maut telah menunggu hanya dalam hitungan jam. Duh..
Satu jam pertama, pesawat terbang normal. Sayang, saat tiba di langit Italia, hujan turun dengan deras. Badai datang menghantam. Sekitar pukul 16.45, radio bandara Kota Turin mendapat berita dari pilot pesawat bahwa cuaca sangat buruk. Awan tebal menyelimuti Kota Turin. Di daerah Superga, mata pilot hanya bisa menjangkau pada radius 40 meterPilot pesawat dan menara pemantau di bandara Turin saling memberi kabar. Malang tak dapat dihindari. Pada pukul 17.04, sinyal radio dari pesawat tiba-tiba terputus. Pihak bandara pun tak bisa menerka apa yang telah terjadi. Selang beberapa menit kemudian, pada pukul 17.12, kepolisian kawasan Superga memberi kabar bahwa ada kecelakaan tragis. Sebuah pesawat membentur Bukit Superga. Semua penumpangnya tewas mengenaskan.Italia terperangah. Perih menusuk di semua dada orang Italia. Para legenda sepak bola mereka tewas mengenaskan. Ratusan polisi dan tenaga sukarelawan menyerbu ke lokasi. Mereka mencoba menolong seolah tak percaya bahwa para korban telah tewas. Konglomerat Giovanni Agnelli dan pelatih legendaris Vittorio Pozzo sampai ikut turun ke lapangan untuk membantu sekuat tenaga.

Semua sia-sia. Rantai emas sepak bola Turin dan Italia telah putus. Italia pun menangis.
SENJA itu, hujan turun di bagian utara Italia. Petir berkilat seiring derasnya hujan. Alam seperti tidak bersahabat lagi. Malang, sebuah pesawat dari Lisabon menuju Turin terlanjur mengudara.
Seperti belalang tersapu angin, pesawat nahas itu tak mampu mengendalikan diri. Krasss... Sayap pesawat menabrak Superga, bukit setinggi 670 meter di pinggiran Kota Turin. Pesawat pun meledak dan semua penumpang tewas mengenaskan.

Peristiwa yang terjadi pada pukul 17.04 waktu Italia, 4 Mei 1949 tersebut, merupakan lembar buram sejarah sepak bola Italia. Tak sekadar merenggut 31 jiwa. Lebih dari itu, kecelakaan itu juga memutus rantai sebuah generasi emas.Bayangkan, 18 dari 31 penumpang yang tewas tersebut merupakan skuad inti Torino, tim tertangguh di Italia dan salah satu tim terkuat di Eropa. Pada saat itu, Torino adalah raja. Juventus atau Milan tak berkutik. Torino berhasil menobatkan diri sebagai juara sejati Italia dengan mengangkangi takhta Serie A dari 1943 sampai 1949 tanpa putus.Yang lebih tragis, 70 persen kekuatan Timnas Italia juga ada di Torino. Klub berjulukan "El Toro" itu menyumbang 7 pemain untuk "Gli Azzurri". Salah satunya, Valentino Mazzola, kapten dari segala kapten, ayah dari legenda Inter Milan, Sandro Mazzola.Valentino merupakan pemain paling karismatis di Italia. Pria yang telah mencetak 100 gol di SerieA sebelum umurnya menginjak 30 tahun ini dianggap seperti jenderal oleh teman-temannya. Nakhoda kapal "Gli Azzurri" ada di tangannya.

Efek dari kecelakaan tersebut
Hasilnya bisa ditebak. Pascakecelakaan tersebut, pamor Torino langsung padam. Takhta Serie A musim 1949-1950 pun dicuri kembali oleh Juventus. Yang lebih parah, Torino tak bisa lagi mempertahankan kebesarannya—saat itu Torino merupakan salah satu klub paling bergengsi di Italia. Akibat kehilangan kekuatan satu generasinya, Torino terduduk dan tak mampu bangkit lagi sampai saat ini.
Begitu juga nasib Timnas Italia. Setelah pada 2 Piala Dunia sebelumnya berhasil jadi juara, "Gli Azzurri" berubah jadi macan ompong. Hampir semua kekuatannya musnah seiring meledaknya pesawat di Bukit Superga. Hasilnya, pada Piala Dunia 1950, Italia hanya mampu meringis, tersingkir di babak penyisihan, dan Italia baru bisa bangkit lagi 33 tahun kemudian, saat menjuarai Piala Dunia 1982 di Italia.

Hubungan Scudetto Inter dengan Tragedi Superga?

Saat kejadian terjadi Inter dan Torino sedang bersaing dalam perebutan capolista, Torino memimpin klasmen dengan di ikuti oleh Inter. Kedua klub hanya berselisih 3 point dan menyisakan 4 pertandingan lagi.
Pasca dari tragedi Superga squad Torino mengalami kepedihan dan hanya menyisakan pemain primavera, sehingga FIGC melakukan rapat bersama dengan klub-klub seri A pada waktu itu. Dari hasil rapat terdapat sebuah keputusan untuk memberikan scudetto kepada Torino guna mengenang dan menghormati semua korban tragedi superga
Carlo Masseroni (1942–1955) presiden Inter waktu itu ikut menyetujui keputusan FIGC tersebut dengan mengorbankan peluang scudetto yang didapat, jika melihat dari susunan klasemen serta 4 pertandingan sisa Inter yang saat itu di pimpin oleh I Nyers dan E. Bearzot di yakini mampu memenangi sisa pertandingan yang ada.Dan Torino dengan tim primaveranya akan kesulitan memenangi laga sisa.
Carlo melihat, memenangi sebuah scudetto saat seluruh Italia berduka tidak lah menjadi sebuah kebanggaan, apa yang telah kita setujui dan kita lakukan hari ini akan menjadi sebuah Sejarah, Kasih Sayang, Keikhlas dan Kejujuran.
Hikmah dari Tragedi Superga
Anak dari Valentino Mazzola legenda Itali dan Torino bernama Sandro Mazzola, hanya mau bermain di Inter Milan, apakah ini merupakan bentuk terima kasih Sandro Mazzola terhadap Inter atas scudetto Torino dan penghormatan terhadap Inter terhadap ayahnya. Dan Sandro Mazzola menjadi salah satu legenda Inter.
Tahun 2006 Inter mendapatkan gelar scudetto yang ke 14 sebuah gelar yang didapat dengan cara tidak biasa beberapa media menyebutnya dengan "Scudetto of Honesty" karena tidak terlibat skandal memalukan liga italia yang melibatkan Juventus dan AC Milan
Para fans yang pada waktu itu (1948-49) saat terjadinya tragedi superga menerima dengan tabah keputusan sang presiden, kecintaan terhadap klub Kasih Sayang, Kejujuran dan Keiklasan lebih penting dari pada sebuah juara, dan para fans pada masa dekade dan sekarang itu tidak pernah menuntut scudetto tersebut seperti apa yang kita dengar saat sekarang ini.

Terima kasih tuhan, meski saya tidak lahir sebagai interista.. engkau membesarkan saya di jalan Interisti… terima kasih.


Terima kasih Tuhan, sang Maha Pembolak balik Hati… menganugrahkan saya cinta yang indah…
Memberikan saya rasa cinta kepada sebuah klub yang banyak sekali memberi hal positif dalam hidup saya. Kasih sayang yang Tuhan beri dan menakdirkan saya menjadi seorang interista. Saya mencintai klub ini dari tahun 1995… namun marah jika klub ini diejek, sedih jika klub ini kalah.. adalah tragedi 1998. Membuat saya memilih mencintai klub ini… dan sejak saat itu.. 1NTER ADALAH SOULMATE SAYA.
Banyak sekali berkah yang saya terima karena mencintai klub ini… belajar arti kesetiaan yang diajarkan bergomi dan zanetti (Dua orang idola saya sepanjang saya cinta inter).  Belajar arti bermain bersih dan rapi.. belajar arti kekeluargaan… dan masih banyak lagi.
Karena Inter saya bertemu teman-teman yang hebat… yang hangat dan menyenangkan. Membuat saya memiliki keluarga dari berbagai macam propinsi. Menjadi satu dalam biru hitam… banyak sekali alasan saya bangga menjadi bagian dari klub ini….
Hari ini saya bertambah lagi alasan saya mencintai klub ini… terima kasih kepada  koordinator wilayah ICI JOGJA.. mas ridho zeni arif karena memposting hal luar biasa, menunjukkan bahwa klub ini bukan klub murahan.. klub ini bukan klub arogan… 1NTER dari awal berdiri Cuma ingin bermain bola dengan cara menyenangkan… dan menegaskan bahwa siapa saja bisa bermain bola… PIALA…. GELAR JUARA…. Hanya bonus dari semua… tragedi 1949 yang akan saya rangkum sendiri dalam bab berbeda….
“Para fans yang pada waktu itu (1948-49) saat terjadinya tragedi superga menerima dengan tabah keputusan sang presiden, kecintaan terhadap klub Kasih Sayang, Kejujuran dan Keiklasan lebih penting dari pada sebuah juara, dan para fans pada masa dekade itu  dan sekarang  tidak pernah menuntut scudetto tersebut seperti apa yang kita dengar saat sekarang ini.
BAGI KAMI SEMUA KEJUJURAN… KERJA KERAS…. KESETIAN DAN KEKLUARGAAN DIATAS SEGALANYA. Dan karena alasan itulah… betapa kami dibenci… tidak hanya di ITALI… namun di sini pun para merdanista seoalh bersatu untuk membenci kami… yah… apapun kata mereka saya bangga menjadi bagian dari ICI JOGJA dan 1NTER.

Terima kasih tuhan, meski saya tidak lahir sebagai interista.. engkau membesarkan saya di jalan Interisti… terima kasih.

Senin, 04 Juli 2011

Permata-permata kecil

Dear Az-zahra,
Malam jum'at tadi, saya dan henna makan di tempat yang biasa kita makan oseng-oseng di klebengan. Lagi asyik-asyik makan.. datanglah pengamen-pengamen cilik... muka-muka lugu.. namun tidak bisa dibilang lucu... menyanyikan lagu dari d' bagindaz empat mata.
miris rasanya melihat mereka... akhirnya qta berinisiatif untuk membelikan mereka minum... sambil menunggu pesannan minuman mereka jadi mengobrol lah kita... banyak hal. Mulai dari apakah mereka bersekolah atau tidak. Mereka tidur dimana, bagaimana mereka makan. That was so sad... coz that was make me remain the thing that i won't remember but i can't forget. Mereka tidur di pelataran toko mirota, jika cukup beruntung di masjid, padahal jogja akhir-akhir ini jika malam menjelang dinginnya luar biasa. Aq saja yang tidur dengan menggunakan selimut, jaket dan kaos kaki masih merasa dingin.Bagaimana mungkin mereka bisa tidur dengan baju setipis itu. Yah Tuhan ... gak bisa kubayangkan. KEMANA INI PEMERINTAH... YANG MENYATAKAN BAHWA FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DIPELIHARA NEGARA.
that is so suck.... cuma OMDO..... mereka malah lebih memilih memperkaya diri mereka sendiri dibandingkan dengan membagi harta yang dititpkan kepada mereka.
Tau gak zahra... saya jadi memikirkan banyak hal.. dan semoga bisa terealisasikan ingin membangun rumah singgah dan sekolah singgah. agar memiliki banyak anak di dunia ini.Menjadi orang tua, selama nya bagi mereka.
Semangat mereka... senyum malu-malu mereka saat ditanya, membekas dalam ingatan. zahra kamu tentu tau apa doaku tiap malam. Aq takut meminta pengampunan atas itu. Namun semoga sedikit mengurangi... aq ingin menjadi orang tua yang baik bukan bagi anak-anak dari darahku sendiri namun bagi anak-anak yang mampu aq lindungi. Az- zahra... sampaikan pada Tuhan.. dan semoga akan di dengarkan